Langsung ke konten utama

SOAL UTS PENGANTAR ANTROPOLOGI

SOAL:

  1. Bagaimana isu etnis dan ras dapat memunculkan konflik? Jawaban harus berisikan penjelasan konsep-konsep yang relevan dan contoh kasus empirik yang terjadi di Indonesia.
  2. Jelaskan kaitan antara cultural relativisme dan multiculturalism. Menurut Saudara, bagaimana pandangan tersebut dapat dipupuk agar dapat menciptakan kehidupan yang damai di Indonesia?
  3. Komunikasi menjadi hal penting dalam menjalankan berbagai pekerjaan, terutama pada bidang-bidang yang melibatkan banyak interaksi sosial. Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan apabila Saudara akan menyosialisasikan suatu program/kebijakan  kepada kelompok masyarakat tertentu (gunakan konsep-konsep yang relevan dalam buku Kottak untuk membantu pembahasan).
  4. Jelaskan penerapan perspektif komparatif dan holistik dalam pembahasan tentang strategi adaptasi manusia. Berikan contoh dari Buku Kottak untuk memperjelas uraian Saudara.

Lembar Jawaban

1. Etnis memiliki hubungan  erat dengan kekuasaan hal ini menyebabkan ketimpangan antar etnis yang menyebabkan salah satu etnis yang lemah menjadi termarginalisasi. Dalam konsep konflik etnis, hal ini terjadi pada masyarakat heterogen. Salah satu konsepnya adalah prasangka (prejudice) yang biasanya berbasis pada stereotip. Menurut Kottak, C. P. (2015) prejudice merupakan perilaku atau persepsi yang memandang rendah suku lain dari perilaku, atribut, nilai-nilai, atau kemampuan. Selain itu, ada juga konsep diskriminasi, yakni praktik aktual berupa kebijakan atau aksi dalam melukai atau menyakiti anggota grup lain dan contoh paling ekstremnya adalah genosida dan etnosida, yaitu penindasan yang disengaja dari suatu etnis kultur tertentu oleh kelompok yang lebih dominan pada takaran yang serius hal ini dapat menyebabkan pemusnahan terhadap etnis yang lemah.

Contoh empirik dari konflik etnis dan ras di Indonesia dapat tergambar jelas pada Peristiwa Mei 1998 antara kaum pribumi dengan kaum tionghoa. Sejarah panjang kebencian terhadap etnis tionghoa telah lama terjadi, semenjak peristiwa Geger Pecinan pada masa kolonial hingga Peristiwa Mei 1998 bukanlah waktu yang dekat. Konflik ini terjadi karena prejudice terhadap etnis tionghoa yang dicitrakan sebagai etnis yang hanya peduli terhadap uang dan tidak peduli terhadap sesama. Selain itu peran pemerintahan orde baru yang mengkambinghitamkan kegagalan mereka dalam mengatasi krisis ekonomi kepada etnis tionghoa juga menambah tensi negatif pada prasangka yang terjadi karena kaum tionghoa pada saat itu dianggap sebagai kaum minoritas yang memegang kendali atas perekonomian Indonesia. Selain itu, kaum tionghoa pada  saat itu juga mendapat tindakan diskriminasi terhadap kaumnya berupa peninggian harga barang apabila pembelinya  “berwajah cina”. Hal ini karena ras erat kaitannya dengan fenotip atau tampilan fisik seseorang yang memiliki ciri khas, penjual yang merupakan pribumi akan memberikan harga yang lebih tinggi apabila orang tionghoa yang menjadi pembelinya karena sentimen yang diciptakan tadi.

2. Menurut Kottak, C. P. (2015) relativisme budaya (cultural relativism) adalah pandangan bahwa tidak pantas menggunakan standar luar untuk menilai sikap budaya dalam masyarakat tertentu, perilaku budaya tersebut harus ditinjau melalui konteks budaya tersebut terjadi, sedangkan multikulturalisme merupakan kemajemukan budaya yang menekankan pada mencari cara bagi orang untuk memahami dan berinteraksi yang tidak bergantung pada kesamaan tetapi melainkan menghargai perbedaan. Dengan adanya dua pandangan ini apabila keduanya dikombinasikan dan senantiasa dipupuk akan menciptakan kehidupan yang harmonis, damai, dan tenteram. Hal ini karena keyakinan moral setiap budaya berbeda dan konsep serta nilai yang ditanamkan suatu budaya juga tidak absolut, sebab itu dengan pemahaman multikulturalisme akan tercipta toleransi dan sikap penghargaan terhadap perbedaan yang ada.

3. Komunikasi merupakan hal yang krusial dalam suatu masyarakat. Komunikasilah yang membolehkan enkulturasi terjadi. Dengan komunikasi, orang-orang dalam suatu masyarakat dapat memahami simbol-simbol yang menjadi representasi akan suatu makna di masyarakat tersebut. Dalam berkomunikasi tentunya diperlukan penyesuaian latar belakang budaya dan konteks agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menelaah informasi khususnya pada menyosialisasikan suatu program atau kebijakan  kepada kelompok masyarakat tertentu agar nantinya sosialisasi tersebut dapat diterima dan berjalan lancar ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berdasarkan buku Kottak, C. P. (2015), yaitu:

  • Sapir-Whorf Hypothesis

 Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf menyatakan bahwa bahasa memengaruhi cara pikir manusia. Oleh karena itu, manusia dengan bahasa yang berbeda memiliki cara pikir yang berbeda.

  • Meaning

Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah makna dalam suatu bahasa. Suatu kata mewakili suatu makna tertentu yang berbeda dari satu bahasa dengan bahasa lain. Oleh karena itu, antropolog mengembangkan ethnosemantics yaitu mempelajari bagaimana suatu masyarakat “melabeli” sesuatu atau memberi makna terhadap sesuatu. Dalam konteks bahasa, bagaimana masyarakat memberi makna terhadap suatu kata.

  • Focal Vocabulary

Konsep ini menyatakan budaya memengaruhi bahasa sehingga persepsi atau cara pikir manusia akan ikut terpengaruh. Lexicon atau kamus pada dasarnya berbeda setiap bahasa. Satu padanan kata bisa saja tidak ada pada bahasa lain. Oleh karena itu, daftar kata dapat memengaruhi persepsi kita terhadap sesuatu. Orang berbahasa Inggris memandang salju sebagai salju, sementara orang Eskimo memandang salju tergantung pada karakteristik tiap salju karena mereka memiliki padanan katanya tersendiri.

  • Sociolinguistics

Perbedaan latar belakang sosial melahirkan perbedaan cara penggunaan bahasa. Meskipun mereka menggunakan bahasa yang sama, latar belakang sosial seperti kelas, gender, ras, dll., memengaruhi bagaimana mereka menggunakan bahasa. Latar belakang sosial yang berbeda mengembangkan cara penggunaan bahasanya sendiri yang lambat laun menjadi input bagi bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, perubahan bahasa terjadi dalam konteks sosial.

Strategi adaptasi manusia yang paling esensial adalah pemenuhan kebutuhan bertahan hidup dalam konteks ini berkaitan erat dengan bagaimana manusia mencari makanan. Sepanjang sejarah hidup manusia, manusia memiliki caranya sendiri-sendiri dalam mencari makanan. Penerapan perspektif komparatif berkaitan erat dengan bagaimana antropolog mengkaji suatu fenomena budaya dalam hal ini cara masyarakat dalam strategi adaptasi manusia untuk bertahan hidup dengan lingkungannya. Setiap lingkungan di belahan dunia berbeda baik itu karakter manusia atau ekosistem yang ada di dalamnya. Oleh karena itu perspektif komparatif antropologi menitikberatkan pada pendekatan lintas budaya yang terjadi pada masyarakat dan budaya di dalamnya. Contoh yang terdapat pada buku Kottak, C. P. (2015) menjelaskan dalam teknik horticulture and agriculture manusia bertahan hidup dengan bercocok tanam berpindah dan menetap. Akan tetapi tidak semua masyarakat dapat melakukannya seperti penduduk es kimo yang tinggal di daerah yang dingin dan beku, tentu sulit untuk menanam atau memproduksi makanannya sendiri. Oleh karena itu, memburu atau teknik foraging merupakan cara yang digunakan dan bisa dilakukan mereka guna memenuhi kebutuhan.

Sedangkan perspektif holistik menekankan kepada pandang yang menyeluruh terhadap suatu kebudayaan yang terdiri dari masa lampau, masa sekarang, dan masa depan serta segala aspek di dalamnya. Dalam hal bertahan hidup setiap zaman memiliki caranya masing-masing yang tentunya dipengaruhi oleh banyak variabel dan faktor yang berkontribusi di dalamnya. Dalam buku Kottak, C. P. (2015) dijelaskan proses perkembangan manusia dalam beradaptasi bertahan hidup mulai dari foraging-horticulture and agriculture, domesticated animals, irrigation, terracing, cost and benefit of agriculture, cultivation and continuum, intensification, dan pastoralism. Semua hal ini berkaitan dengan ekonomi masyarakat tersebut. Dalam berjalannya ekonomi tersebut, tentu ada metode tersendiri dalam mengatur anggota masyarakat agar dapat berjalan dengan baik. Setiap kebudayaan mempunyai karakteristiknya masing-masing sehingga penyesuaian terus terjadi seiring perkembangan zaman dan teknologi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kottak, C. P. (2015). Cultural anthropology: Appreciating cultural diversity. McGraw-Hill Education.

Postingan populer dari blog ini

MENGURAI GLOBALISASI: WUJUD BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL DI JABODETABEK

A. PENGERTIAN GLOBALISASI Pengaruh globalisasi dalam dunia yang semakin terhubung secara global telah menjadi perhatian utama dalam berbagai bidang. Dalam era globalisasi ini, batasan-batasan geografis semakin terkikis, memberikan ruang bagi pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya yang lebih intensif dan cepat. Fenomena ini tidak hanya membawa manfaat yang signifikan, tetapi juga menimbulkan tantangan dan perdebatan yang kompleks. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah proses di mana dunia semakin terhubung melalui pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya secara global. Ia berpendapat bahwa globalisasi melibatkan percepatan interaksi dan interdependensi antara negara-negara, serta melampaui batasan-batasan geografis dan politik. Giddens juga menekankan bahwa globalisasi memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Giddens, 19

TUGAS GEOGRAFI KELAS X SMA BAB HIDROSFER

PERTANYAAN   Jelaskan aktivitas manusia (minimal 3) yang dapat mengganggu proses siklus hidrologi serta dampak yang ditimbulkannya.   JAWABAN   Kegiatan manusia yang memengaruhi siklus air adalah penebangan hutan secara liar. Pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Pembangunan perumahan dan perindustrian. Pembangunan jalan tol dan jalan raya di perkotaan dan desa.   Penebangan hutan liar yang menyebabkan banyaknya lahan kosong sehingga air yang turun tidak terserap oleh tanah. Pembangunan jalan dengan menggunakan aspal dan beton untuk membuat jalan tol dan jalan raya. Aspal dan beton menghalangi air untuk meresap ke dalam tanah. Pembakaran hutan yang dapat menyebabkan struktur tanah dan juga tandus. Tidak menanami lahan-lahan yang kosong dengan tanaman, tetapi mengubah lahan-lahan tersebut menjadi daerah pemukiman. Berkurangnya daerah resapan air di daerah perkotaan sehingga mengakibatkan sungai, danau, dan daerah penampungan air menjadi kering. Apabila kering, maka men

TRANSFORMASI DAN ADAPTASI MASYARAKAT PESISIR INDONESIA

A. PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL DAN MASYARAKAT PESISIR Dalam era yang terus berkembang ini, perubahan sosial menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam konteks masyarakat pesisir Indonesia. Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, pemahaman yang mendalam tentang perubahan sosial pada masyarakat pesisir menjadi sangat penting. Jan Flora dan Arnold P. Goldsmith menggambarkan perubahan sosial sebagai dinamika sosial dan transformasi struktur sosial yang melibatkan perubahan dalam pola hidup, mata pencaharian, dan pola kekerabatan dalam masyarakat (Flora & Goldsmith, 2003). Dalam konteks masyarakat pesisir, perubahan sosial dapat mencakup pergeseran dalam mata pencaharian dari perikanan tradisional ke sektor pariwisata atau industri lainnya, serta perubahan dalam struktur keluarga dan pola kekerabatan yang dap