Langsung ke konten utama

RANGKUMAN MATERI MENGENAL ALLAH MELALUI AYAT KAUNIYAH

Bagi seorang muslim, agama tidak bisa dipisahkan dari sains. Karena, salah satu “ilmu alat” untuk memahami agama adalah sains. Dengan menguasai sains, seorang muslim akan memperoleh kedalaman makna dari firman-firman Allah di dalam kitab suci. Khususnya, ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat yang bercerita tentang ciptaan Allah di alam semesta. Yang jumlahnya lebih dari 800 ayat. Mengalahkan ayat-ayat fikih yang berkisar di angka 150-an. Melalui ayat-ayat kauniyah itulah Allah mendorong kita untuk memahami segala ciptaan-Nya. Agar kita mengenal siapa Sang Pencipta jagat raya, Yang Maha Agung dengan sedemikian teliti dan sempurna dalam mendesain makhluk-Nya dalam keseimbangan dinamis sehingga menjadikan alam semesta tetap ada selama belasan milyar tahun, sampai kini.

            Berkali-kali Al-Quran menyebut istilah “ulul albab”, yakni seorang ilmuwan yang senantiasa berpikir ilmiah, sekaligus memiliki spiritualitas yang sangat mendalam. Oleh karena itu, ia bisa memperoleh hikmah berlimpah dari segala ciptaan Allah, yang dihamparkan di sekitarnya, maupun di jagat raya. Di ujung aktivitas zikir dan tafakurnya sang ulul albab berkata: “Wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau ..” Sebuah ungkapan yang sangat mendalam secara sains, sekaligus spiritual. Karena, ucapan “tidak sia-sia segala yang Engkau ciptakan” itu menggambarkan betapa sang ulul albab adalah seorang yang memiliki ilmu sangat mendalam.

Seorang ilmuwan dengan pemahaman yang sangat detail, sampai kepada akar masalahnya sehingga, sampai terlontar ungkapan zikir “subhanallah”, yang menunjukkan kekagumannya kepada Sang Pencipta. Sekaligus, permohonan ampun atas kelalaiannya terhadap fenomena yang mengagumkan, yang selama ini tidak diperhatikannya. Maka, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya Allah mendorong umat Islam untuk menjadi seorang ulul albab. Sebuah kualitas hamba yang sangat dimuliakan di dalam Al-Quran. Yang menggunakan seluruh potensi kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritualnya dalam memahami segala ciptaan Allah. Yang pada ujungnya, membangkitkan kesadaran untuk merasakan kehadiran Sang Maha Agung di seluruh horizon jiwanya.

Ribuan tahun para ahli fisika mencoba memahami eksistensi alam semesta. Mulai dari eksistensi benda, eksistensi energi, eksistensi ruang, eksistensi waktu, dan eksistensi informasi. Hasilnya, sampai sekarang masih jauh dari kata ‘final’. Apakah yang disebut ‘benda’? Orang dulu menyebut benda sebagai segala yang tampak oleh mata dan bisa dipegang oleh tangan kita. Begitulah definisi sederhananya. Maka, kita bisa menyebut segala yang kita sebut benda itu, mulai dari bebatuan, pepohonan, pegunungan, air, udara, sampai benda-benda langit. Seiring dengan kemajuan sains, manusia mulai mempertanyakan, apakah substansi benda itu. Apakah hal tersebut berupa ‘gumpalan’ seperti yang kita lihat, ataukah tersusun dari substansi yang lebih mendasar. Maka, mulailah berkembang berbagai penelitian yang menghasilkan teori-teori ilmiah untuk mendefinisikan benda atau materi secara lebih substansial. Bahwa, ternyata semua benda tersusun dari gumpalan-gumpalan yang lebih kecil yang masih memiliki sifat sama dengan gumpalan besarnya. Maka, disebutlah sebagai molekul. Ada molekul air, molekul udara, molekul bebatuan, dan sebagainya. Lebih jauh, molekul-molekul itu ternyata juga tersusun dari bagian lebih kecil yang lebih mendasar, yang disebut sebagai atom, berasal dari kata Yunani atomos yang bermakna tidak bisa dibagi lagi. Di tingkat atom ini para peneliti menemukan sifat lebih mendasar yang bisa berbeda dengan gumpalan benda asalnya. Bahwa benda alias materi itu ternyata tersusun dari kumpulan ‘sesuatu’ yang berbeda-beda yang membentuk sebuah komposisi khas.

Tak jauh berbeda dengan kasus pertama, pemahaman manusia terhadap energi mengalami perkembangan menuju substansi yang penuh misteri. Awalnya, manusia hanya merasakan keberadaan ‘kekuatan’ yang berada di balik setiap benda dan peristiwa. Bahwa, benda-benda itu bisa bergerak dan berdinamika karena adanya dorongan kekuatan pada benda itu. Maka, para peneliti mengeksplorasi sumber-sumber energi tersebut. Mulai dari yang paling sederhana, seperti energi yang terjadi pada benda yang sedang bergerak. Bahwa, setiap yang bergerak ternyata menghasilkan tenaga, meskipun hal tersebut juga membutuhkan tenaga. Manusia mempelajari berbagai gerakan benda-benda langit di alam makro, dan kemudian juga mengamati gerakan-gerakan partikel di alam mikro, yang lantas memunculkan teori-teori energi yang semakin kompleks. Seperti energi kimiawi, energi listrik, energi magnetik, energi nuklir dan energi gravitasi. Secara umum energi-energi itu lantas dikelompokkan menjadi empat energi dasar alam semesta yang kita kenal sebagai energi elektromagnetik, energi gravitasi, energi nuklir kuat dan energi nuklir lemah. Energi-energi itu lantas menghasilkan gaya-gaya yang sesuai dengan energi penggeraknya, yakni gaya elektromagnetik, gaya gravitasi, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah.

            Sebenarnya, alam semesta bukan hanya terdiri dari ruang dan waktu. Karena, ruang dan waktu itu hanya sebagai akibat saja dari variabel yang lebih substansial yaitu materi dan energi yang telah kita bahas sebelum ini. Ruang dan waktu adalah konsekuensi dari materi yang berdinamika mengembang ke segala penjuru alam semesta. Karena proses merenggang antar materi itulah, maka terbentuk ruang. Dengan kata lain, jika materi tidak merenggang, tidak akan terbentuk ruang dan para ilmuwan pun ‘kebingungan’ memahami paradoks ini. Ilmu pengetahuan atau sains, masih kebingungan untuk menjelaskan dari mana asal muasal materi yang jumlahnya sangat besar di alam semesta ini dan dari mana pula energi raksasa yang menjadi daya penggerak benda-benda langit secara kolosal itu bersumber, sehingga terbentuk ruang dan waktu.

            Sebagai pakar neuroscience yang atheis, Sam Harris membangun kesimpulan yang senada dengan kawan-kawannya. Bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena, secara neuroscience tidak bisa dibuktikan. Tuhan hanyalah sebuah konsekuensi dari ‘keharusan kognitif’ untuk mencari kejelasan dari sesuatu yang tidak diketahui dan kemudian manusia mencoba menghubung-hubungkan dengan asal-usulnya, asal-usul kehidupan, serta kemana perginya kelak sesudah kematian. Semua itu, menurutnya, adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak pasti. Akan tetapi karena kita butuh jawaban, maka dibuatlah jawaban yang bersifat transendental atau supranatural. Menurutnya semua itu hanya ilusi belaka.

            Atheis membuat kesimpulan bahwa ‘kesadaran identik dengan otak’ berdasar pada bukti empiris, di mana seseorang yang otaknya mengalami kerusakan, akan mengalami gangguan kesadaran (gangguan jiwa). Sebaliknya, orang yang mengalami gangguan jiwa juga mengalami kerusakan pada struktur otaknya sehingga mereka menyimpulkan otak = jiwa, dan jiwa = otak. Tidak ada istilah ruh karena, kehidupan bukan disebabkan oleh adanya ruh, melainkan muncul sebagai konsekuensi dari sistem alamiah yang ada di dalam tubuh makhluk hidup. Dengan demikian, kematian dianggap sebagai terminal terakhir dari perjalanan makhluk hidup. Tidak ada yang namanya kehidupan sesudah mati atau alam berdimensi lebih tinggi sebagai kelanjutan kehidupan dunia. Semua itu menjadi satu paket dari ketidakpercayaan mereka terhadap Tuhan.

            Maka, kalau dikaitkan realitas dengan organ otak dan fungsi kesadaran, dapat dilihat korelasinya dengan jelas. Bahwa otak adalah materi, sedangkan fungsi kesadaran adalah kualitas atau energi. Perubahan dari ‘otak materi’ menjadi ‘otak energi’ itu menjadi penjelas terjadinya kesadaran di dalam otak kita. Bahwa, kesadaran manusia bukan hanya disebabkan oleh sistem sarafi dalam skala organ belaka, melainkan lebih mendalam dari itu, terhubung dengan proses perubahan materi menjadi energi kesadaran sehingga, sebenarnya, kesadaran itu sudah ada di level yang lebih halus dibandingkan otak sebagai organ dan itulah yang kita lihat dalam skala seluler maupun biomolekuler di sistem informasi genetik. ‘Kesadaran’ sudah muncul di level yang lebih kecil dari organ otak sehingga kesadaran otak hanyalah akumulasi dari kesadaran di tingkat yang lebih halus saja.

           

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

El-Zastrouw, Ngatawi dkk. (2020). Materi Pembelajaran Mata Kuliah Agama Islam. Jakarta:Universitas Indonesia.

 

Postingan populer dari blog ini

MENGURAI GLOBALISASI: WUJUD BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL DI JABODETABEK

A. PENGERTIAN GLOBALISASI Pengaruh globalisasi dalam dunia yang semakin terhubung secara global telah menjadi perhatian utama dalam berbagai bidang. Dalam era globalisasi ini, batasan-batasan geografis semakin terkikis, memberikan ruang bagi pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya yang lebih intensif dan cepat. Fenomena ini tidak hanya membawa manfaat yang signifikan, tetapi juga menimbulkan tantangan dan perdebatan yang kompleks. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah proses di mana dunia semakin terhubung melalui pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya secara global. Ia berpendapat bahwa globalisasi melibatkan percepatan interaksi dan interdependensi antara negara-negara, serta melampaui batasan-batasan geografis dan politik. Giddens juga menekankan bahwa globalisasi memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Giddens, 19

TUGAS GEOGRAFI KELAS X SMA BAB HIDROSFER

PERTANYAAN   Jelaskan aktivitas manusia (minimal 3) yang dapat mengganggu proses siklus hidrologi serta dampak yang ditimbulkannya.   JAWABAN   Kegiatan manusia yang memengaruhi siklus air adalah penebangan hutan secara liar. Pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Pembangunan perumahan dan perindustrian. Pembangunan jalan tol dan jalan raya di perkotaan dan desa.   Penebangan hutan liar yang menyebabkan banyaknya lahan kosong sehingga air yang turun tidak terserap oleh tanah. Pembangunan jalan dengan menggunakan aspal dan beton untuk membuat jalan tol dan jalan raya. Aspal dan beton menghalangi air untuk meresap ke dalam tanah. Pembakaran hutan yang dapat menyebabkan struktur tanah dan juga tandus. Tidak menanami lahan-lahan yang kosong dengan tanaman, tetapi mengubah lahan-lahan tersebut menjadi daerah pemukiman. Berkurangnya daerah resapan air di daerah perkotaan sehingga mengakibatkan sungai, danau, dan daerah penampungan air menjadi kering. Apabila kering, maka men

TRANSFORMASI DAN ADAPTASI MASYARAKAT PESISIR INDONESIA

A. PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL DAN MASYARAKAT PESISIR Dalam era yang terus berkembang ini, perubahan sosial menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam konteks masyarakat pesisir Indonesia. Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, pemahaman yang mendalam tentang perubahan sosial pada masyarakat pesisir menjadi sangat penting. Jan Flora dan Arnold P. Goldsmith menggambarkan perubahan sosial sebagai dinamika sosial dan transformasi struktur sosial yang melibatkan perubahan dalam pola hidup, mata pencaharian, dan pola kekerabatan dalam masyarakat (Flora & Goldsmith, 2003). Dalam konteks masyarakat pesisir, perubahan sosial dapat mencakup pergeseran dalam mata pencaharian dari perikanan tradisional ke sektor pariwisata atau industri lainnya, serta perubahan dalam struktur keluarga dan pola kekerabatan yang dap