Langsung ke konten utama

Dampak Penggunaan Media Sosial terhadap Kesejahteraan Mental

PENDAHULUAN

Pemilihan topik dampak penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan mental didorong oleh keinginan saya untuk mengetahui apakah benar-benar ada dampak yang signifikan dari penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan mental seseorang. Fenomena di sekitar saya, terutama dalam lingkungan pertemanan, di mana semakin banyak orang yang memutuskan untuk menonaktifkan akun media sosial mereka demi kesehatan mental, hal ini sangat mengkhawatirkan dan memancing rasa keingintahuan saya.

Dalam rangka mencari pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara penggunaan media sosial dan kesejahteraan mental, saya memilih dua jurnal yang relevan, melalui penelusuran di website https://remote-lib.ui.ac.id/menu dengan kata kunci "The Impact of Social Media Use on Mental Well-being" saya akhirnya menemukan dua jurnal yang saya rasa cocok. Pertama, jurnal yang berjudul "Association of Facebook Use With Compromised Well-Being: A Longitudinal Study" yang ditulis oleh Holly B. Shakya dan Nicholas A. Christakis dan diterbitkan di American Journal of Epidemiology pada tahun 2017. Jurnal ini dipilih karena telah melalui proses peer review dan memiliki tingkat perhatian yang tinggi berdasarkan Altmetric Attention Score dengan skor 2.534.

Selanjutnya, saya juga memilih jurnal berjudul "Media Use is Linked to Lower Psychological Well-being: Evidence from Three Datasets" yang ditulis oleh Jean M. Twenge dan W. Keith Campbell dan diterbitkan di Psychiatric Quarterly pada tahun 2019. Jurnal ini juga telah melewati proses peer review dan memiliki tingkat perhatian yang tinggi berdasarkan Altmetric Attention Score dengan skor 817.

Dengan memilih kedua jurnal ini, saya berharap dapat mendapatkan informasi yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan mental. Saya berharap hasil evaluasi terhadap artikel-artikel ilmiah ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara media sosial dan kesejahteraan mental, serta memberikan wawasan yang berguna dalam memahami fenomena yang sedang terjadi di sekitar saya.

NOTECARD

Shakya dan Christakis 2017 Topik: kesehatan mental, interaksi sosial, media sosial, jaringan sosial, dukungan sosial

Studi longitudinal ini memberikan wawasan tentang bagaimana interaksi sosial online dan offline dapat mempengaruhi kesejahteraan seseorang serta memberikan pemahaman tentang beberapa risiko yang terkait dengan penggunaan media sosial. Dengan menggunakan data dari survei Gallup Panel Social Network Study yang mencakup pengukuran jaringan sosial dan penggunaan Facebook secara objektif, para peneliti menyelidiki hubungan antara aktivitas Facebook, aktivitas jaringan sosial di dunia nyata, dengan laporan kesehatan fisik, kesehatan mental, kepuasan hidup, dan indeks massa tubuh yang dilaporkan oleh individu.

Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan media sosial, khususnya Facebook, dapat berdampak negatif pada kesejahteraan seseorang. Hipotesis ini didasarkan pada beberapa teori dan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat menyebabkan perbandingan sosial yang tidak sehat, kecanduan internet, isolasi sosial, dan gangguan tidur.

Metode

Studi ini menggunakan metode longitudinal dengan mengumpulkan data dari 5.208 responden yang merupakan mahasiswa di sebuah universitas di Amerika Serikat. Data dikumpulkan pada tahun 2005 dan diikuti hingga tahun 2015. Responden diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan tentang penggunaan Facebook, jumlah teman Facebook, interaksi sosial offline , serta kesejahteraan mental dan fisik mereka. Data kemudian dianalisis menggunakan model regresi linear untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan Facebook dengan kesejahteraan mental dan fisik responden. Model ini juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesejahteraan, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, dan indeks massa tubuh. Penelitian ini juga menggunakan analisis jaringan sosial untuk mengevaluasi hubungan antara jumlah teman Facebook dengan kesejahteraan mental dan fisik responden. Analisis ini melibatkan konstruksi jaringan sosial dari data teman Facebook responden dan pengukuran sentralitas jaringannya. Hasil analisis kemudian digunakan untuk mengevaluasi hipotesis bahwa penggunaan media sosial dapat berdampak negatif pada kesejahteraan seseorang serta untuk mengidentifikasi beberapa risiko kesehatan mental dan sosial yang mungkin terkait dengan penggunaan media sosial.

Temuan

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Facebook dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan fisik seseorang. Meskipun memiliki lebih banyak teman di Facebook dikaitkan dengan kesejahteraan mental yang lebih baik, penggunaan Facebook dalam tiga cara yang diukur dalam penelitian (yaitu mengirim pesan, mengunggah status, dan menyukai unggahan orang lain) dikaitkan dengan kesejahteraan mental yang lebih buruk. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa interaksi sosial offline memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan mental dan fisik seseorang. Responden yang melaporkan lebih banyak interaksi sosial offline cenderung memiliki kesejahteraan mental dan fisik yang lebih baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa risiko kecanduan internet dan perbandingan sosial yang tidak sehat terkait dengan penggunaan Facebook. Responden yang melaporkan penggunaan Facebook yang lebih tinggi cenderung mengalami risiko kecanduan internet dan perbandingan sosial yang tidak sehat.

Twenge dan Campbell 2019 Topik: Media digital, Media sosial, Kesejahteraan psikologis

Penelitian ini membahas hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis pada remaja. Analisis menggunakan tiga sumber data menunjukkan bahwa pengguna media digital dengan intensitas tinggi memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dibandingkan dengan pengguna intensitas rendah. Mereka juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk merasa tidak bahagia dan memiliki faktor risiko bunuh diri seperti depresi dan pemikiran bunuh diri. Pengguna media digital dengan intensitas rendah memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan implikasi praktis dan rekomendasi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dengan mengurangi penggunaan media digital, serta bagi orang tua, pendidik, dan profesional kesehatan mental dalam menghadapi penggunaan media digital pada remaja.

Hipotesis

Dalam jurnal ini, terdapat dua hipotesis yang dibahas yaitu hipotesis Goldilocks dan hipotesis exposure-response. Hipotesis Goldilocks menyatakan bahwa kesejahteraan psikologis akan lebih tinggi pada penggunaan media digital yang sedang dibandingkan dengan penggunaan media digital yang ringan atau setidaknya tidak ada perbedaan signifikan antara keduanya. Sementara itu, hipotesis exposure-response mengharapkan bahwa kesejahteraan psikologis akan lebih rendah pada penggunaan media digital yang sedang dibandingkan dengan penggunaan media digital yang ringan. Dalam gambar 1 pada halaman 4, terdapat grafik prediksi (data hipotetikal) untuk perbedaan kesejahteraan psikologis berdasarkan jam per hari penggunaan media digital, dengan memperlihatkan prediksi dari kedua hipotesis tersebut.

Metode

Dalam jurnal ini, peneliti menggunakan tiga sumber data yang berbeda yaitu Monitoring the Future (MTF), Youth Risk Behavior Surveillance System (YRBSS), dan Growing Up Today Study (GUTS). Ketiga sumber data tersebut merupakan survei nasional yang dilakukan di Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan teknik analisis yang sama untuk semua sumber data, yaitu regresi linear berganda. Teknik analisis ini digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis diukur dengan menggunakan skala kesehatan mental dan kebahagiaan subjektif. Penggunaan media digital diukur dengan menghitung jumlah jam per hari yang dihabiskan untuk menggunakan media digital seperti smartphone, televisi, dan komputer. Selain itu, penelitian ini juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis seperti usia, jenis kelamin, ras/etnis, status sosial ekonomi, dan aktivitas fisik. Data-data tersebut kemudian dianalisis secara statistik untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis serta seberapa besar ukuran asosiasinya. Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis perbandingan efek ukuran pada perbandingan kesejahteraan antara pengguna media digital ringan dan sedang dibandingkan dengan pengguna media digital sedang dan berat. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan efek ukuran antara kelompok pengguna media digital ringan dan sedang dengan kelompok pengguna media digital sedang dan berat.

Temuan

Dalam penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis. Hasil analisis menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media digital, semakin rendah kesejahteraan psikologis seseorang. Temuan ini berlaku untuk semua tiga sumber data yang digunakan dalam penelitian. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa efek ukuran perbandingan antara pengguna media digital ringan dan sedang dengan pengguna media digital sedang dan berat tidak signifikan. Artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kesejahteraan psikologis antara kelompok pengguna media digital ringan dan sedang dibandingkan dengan kelompok pengguna media digital sedang dan berat. Namun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, ras/etnis, status sosial ekonomi, dan aktivitas fisik. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam tentang hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan psikologis serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.

C. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Shakya dan Christakis (2017) serta Twenge dan Campbell (2019), dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial, khususnya media digital, memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan mental seseorang. Penelitian Shakya dan Christakis menemukan bahwa penggunaan Facebook secara berlebihan dapat berkontribusi pada kesejahteraan mental yang lebih rendah, sedangkan Twenge dan Campbell menunjukkan bahwa pengguna media digital dengan intensitas tinggi memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dibandingkan dengan pengguna intensitas rendah. Dalam keduanya, terdapat temuan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berhubungan dengan risiko kecanduan internet, perbandingan sosial yang tidak sehat, depresi, dan pemikiran bunuh diri.

Temuan ini penting karena mendukung fenomena yang terlihat di sekitar saya, di mana semakin banyak orang yang memilih untuk menonaktifkan akun media sosial mereka demi kesehatan mental. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara penggunaan media sosial dan kesejahteraan mental, serta memberikan dukungan bagi mereka yang mempertimbangkan mengurangi penggunaan media sosial untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Holly B. Shakya, Nicholas A. Christakis, Association of Facebook Use With Compromised Well-Being: A Longitudinal Study, American Journal of Epidemiology, Volume 185, Issue 3, 1 February 2017, Pages 203–211, https://doi.org/10.1093/aje/kww189

Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). Media use is linked to lower psychological well- being: Evidence from three datasets. Psychiatric Quarterly, 90(2), 311-331. https://doi.org/10.1007/s11126-019-09630-7

Postingan populer dari blog ini

MENGURAI GLOBALISASI: WUJUD BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL DI JABODETABEK

A. PENGERTIAN GLOBALISASI Pengaruh globalisasi dalam dunia yang semakin terhubung secara global telah menjadi perhatian utama dalam berbagai bidang. Dalam era globalisasi ini, batasan-batasan geografis semakin terkikis, memberikan ruang bagi pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya yang lebih intensif dan cepat. Fenomena ini tidak hanya membawa manfaat yang signifikan, tetapi juga menimbulkan tantangan dan perdebatan yang kompleks. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah proses di mana dunia semakin terhubung melalui pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya secara global. Ia berpendapat bahwa globalisasi melibatkan percepatan interaksi dan interdependensi antara negara-negara, serta melampaui batasan-batasan geografis dan politik. Giddens juga menekankan bahwa globalisasi memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Giddens, 19

TUGAS GEOGRAFI KELAS X SMA BAB HIDROSFER

PERTANYAAN   Jelaskan aktivitas manusia (minimal 3) yang dapat mengganggu proses siklus hidrologi serta dampak yang ditimbulkannya.   JAWABAN   Kegiatan manusia yang memengaruhi siklus air adalah penebangan hutan secara liar. Pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Pembangunan perumahan dan perindustrian. Pembangunan jalan tol dan jalan raya di perkotaan dan desa.   Penebangan hutan liar yang menyebabkan banyaknya lahan kosong sehingga air yang turun tidak terserap oleh tanah. Pembangunan jalan dengan menggunakan aspal dan beton untuk membuat jalan tol dan jalan raya. Aspal dan beton menghalangi air untuk meresap ke dalam tanah. Pembakaran hutan yang dapat menyebabkan struktur tanah dan juga tandus. Tidak menanami lahan-lahan yang kosong dengan tanaman, tetapi mengubah lahan-lahan tersebut menjadi daerah pemukiman. Berkurangnya daerah resapan air di daerah perkotaan sehingga mengakibatkan sungai, danau, dan daerah penampungan air menjadi kering. Apabila kering, maka men

TRANSFORMASI DAN ADAPTASI MASYARAKAT PESISIR INDONESIA

A. PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL DAN MASYARAKAT PESISIR Dalam era yang terus berkembang ini, perubahan sosial menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam konteks masyarakat pesisir Indonesia. Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, pemahaman yang mendalam tentang perubahan sosial pada masyarakat pesisir menjadi sangat penting. Jan Flora dan Arnold P. Goldsmith menggambarkan perubahan sosial sebagai dinamika sosial dan transformasi struktur sosial yang melibatkan perubahan dalam pola hidup, mata pencaharian, dan pola kekerabatan dalam masyarakat (Flora & Goldsmith, 2003). Dalam konteks masyarakat pesisir, perubahan sosial dapat mencakup pergeseran dalam mata pencaharian dari perikanan tradisional ke sektor pariwisata atau industri lainnya, serta perubahan dalam struktur keluarga dan pola kekerabatan yang dap