Langsung ke konten utama

RANGKUMAN MATERI AGAMA DAN SAINS

Pada dewasa ini, agama dan sains kembali memeroleh panggung untuk didiskusikan dan diperdebatkan. Baik oleh kalangan beragama, kalangan ilmuwan, maupun kalangan yang tak beragama. Bahkan, oleh mereka yang mengaku tak bertuhan, hal ini dikarenakan generasi muda memiliki kebebasan yang semakin besar. Pada era semakin globalnya teknologi informasi, dunia maya alias internet telah mengambil peran yang sangat sentral dalam mendorong terjadinya kondisi itu. Maka, tidak mungkin untuk membatasi kebebasan peserta didik, dalam memeroleh informasi. Keterbukaan informasi dan pemikiran telah menjadi sebuah keniscayaan dan sebuah kewajaran pada segala bidang keilmuan, termasuk agama dan sains. Oleh karena itu yang harus dilakukan, khususnya oleh dunia pendidikan adalah membentangkan karpet merah bagi keterbukaan informasi dan pemikiran itu, kepada para mahasiswa sekaligus memberikan pendampingan melalui para pendidik yang lebih senior dan berpengalaman agar mekanismenya berjalan di jalur yang baik secara keilmuan dan kematangan berpikir dalam pengambilan keputusan sehingga sesuai dengan jalannya agama itu sendiri.

            Paradigma adalah pola pikir atau kerangka berpikir dalam hal apa pun yang menyebabkan seseorang memiliki persepsi dan pemahaman terhadap suatu masalah yang kemudian, dengan persepsi itu dapat menyikapi masalah tersebut dengan baik. Dalam hal beragama, kita juga mesti memiliki paradigma yang baik, pola dan kerangka berpikir yang mewakili ajaran secara utuh dan karenanya, mesti mengacu kepada rujukan yang paling otentik. kerangka dan mekanisme pemahaman terhadap ajaran Islam menjelaskan bahwa rujukan pertama atas pemahaman umat Islam terhadap agama ini adalah Al-Quran yang mana kitab suci ini mesti ditempatkan di atas segala-galanya dalam memahami dan menjalankan agama. Rujukan kedua, adalah keteladanan Rasulullah SAW karena beliau memang diutus untuk menyampaikan dan meneladankan firman-firman Allah di dalam kitab suci itu dalam realitas sehari-hari. Sehingga, beliau dikenal juga dengan sebutan “Al-Quran Hidup” karena perilaku beliau menggambarkan isi Al-Quran. Rujukan ketiga adalah Ulil Amri. Yakni, para pakar yang mumpuni dalam urusannya, selain Rasulullah. Dalam kategori ini, bukan hanya para penguasa atau pemimpin yang pakar dalam bidang politik dan kekuasaan, melainkan juga para ilmuwan yang pakar di bidang keilmuan masing-masing.

            Berbeda dengan paradigma agama Islam yang mesti merujuk kepada Al-Quran, As sunnah, dan ulil amri, maka paradigma sains hanya dirujukkan kepada ulil amri, alias ilmuwan, atau pakar di bidangnya. Pola dan kerangka berpikir sains didasarkan pada kesepakatan alias konsensus dari para pakar itu. Secara umum, kerangka berpikir sains adalah berbasis pada pengamatan atas fakta. Sains bertugas menjelaskan fakta itu, sehingga bisa dipahami bersama oleh masyarakat luas. Dengan bahasa dan simbol-simbol yang dipahami bersama. Berupa data, rumusan, teori dan hukum. Terkait dengan pengamatan itu dibuatlah asumsi, untuk memulai proses perumusan yang kemudian disusun sebagai hipotesis yang siap diuji. Jika lulus uji, hipotesis itu naik kelas menjadi teori. Dan jika berulang kali terbukti kebenarannya, teori itu disepakati sebagai hukum sains.

            Sains adalah suatu upaya sistematis untuk merumuskan fakta atau realitas alam. Sedangkan fakta adalah sebuah kebenaran karena merupakan realitas alam tetapi, ketika realitas itu diungkapkan kepada orang lain, dan dirumuskan, pengungkapannya belum tentu benar. Disebabkan proses pengamatan itu melalui persepsi si pengamat. Bisa saja terjadi kesalahan, saat pengamatan atau perumusannya. Itulah sebabnya, kebenaran sebuah rumusan harus diuji oleh masyarakat ilmiah secara terbuka. Siapa saja boleh mengemukakan teori tentang realitas alam, tetapi harus siap diuji oleh siapa saja dan kapan saja. Maka, hal pentingnya adalah ketika ada sebuah teori sains kita dianjurkan untuk tidak menerimanya mentah-mentah. Melainkan, mesti memahaminya secara kritis dan mengujinya, kecuali sebuah teori yang sudah mapan dan teruji yang telah disepakati sebagai hukum. Itu artinya teori tersebut telah mampu menjelaskan realitas secara benar. Sesuai keadaan objektif yang ada di alam yang dengan teori itu, para ilmuwan lain bisa menyusun teori-teori kelanjutannya menjelaskan realitas yang lebih kompleks. Jadi, ringkas kata, kebenaran hakiki sesungguhnya tetap berada di alam dalam bentuk realitas dan ketika realitas itu dirumuskan, ia hanya akan menjadi kebenaran relatif. Sesuai dengan keterbatasan ilmuwan yang merumuskannya dan, kondisi yang menyertainya saat melakukan pengamatan tersebut sehingga hal ini menjadi penjelas, mengapa sains terus berkembang seiring dengan terungkapnya realitas baru melalui pengamatan yang lebih maju dan komprehensif dan tidak ada yang berani mengklaim sebuah teori sebagai kebenaran final atas realitas alam semesta.

            Persimpangan antara sains dan agama adalah pada kadar objektivitas dan subjektivitas. Sains dikembangkan melalui pendekatan yang objektif. Sedangkan agama disebarkan melalui pendekatan yang subjektif. Lantas, menjadi kontroversial tetapi, sesungguhnya objektivitas sains dan subjektivitas agama itu tidak perlu diperlawankan secara diameteral. Melainkan, dipahami sebagai sesuatu yang komplementer. Memang, agama adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewahyuan yang bersifat subjektif. Sedangkan sains adalah pengetahuan empiris yang diperoleh secara objektif. Akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan, ketika kedua pengetahuan itu diperlawankan. Pada umumnya, khalayak memandang subjektivitas dan objektivitas adalah dua posisi yang berlawanan. Padahal, semestinya tidak sesungguhnya, objektivitas adalah bagian dari subjektivitas karena pada dasarnya, semua pengamatan dan kesimpulan objektif itu berada di dalam subjektivitas pengamatnya. Ini bukan kesimpulan subjektif melainkan, sudah menjadi kesimpulan objektif sains. Bahwa, sains mutakhir ternyata mengarah kepada subjektivitas. Jadi, objektivitas sains modern kini telah mengakui ketidakobjektifannya. Hanya para penganut sains klasik saja yang mengira bahwa sains adalah pengetahuan yang objektif, tanpa tercampur subjektivitas. Perkembangan sains mutakhir sudah sedemikian jauh, melampaui batas-batas objektivitasnya dan telah memasukkan variabel subjektif ke dalam rumus-rumus matematisnya, melalui pendekatan statistik.

            Sesungguhnya agama adalah ibarat “Pohon Pengetahuan”, sedangkan sains adalah “Buah Pengetahuan”. Kedua-duanya merupakan pengetahuan yang sangat berguna untuk memahami Realitas Sejati yang subjektif sekaligus objektif. Maka, dalam hubungannya dengan agama, sesungguhnya sains berada pada posisi sebagai ilmu alat untuk memahami agama. Karena, sebagaimana pembahasan di atas, objektivitas terbukti berada di dalam subjektivitas. Dengan kata lain, dalam konteks ini, sains adalah bagian dari agama dan ternyata, ayat-ayat Al-Quran memang banyak yang menempatkan peran sains dalam memahami realitas yang jika kita tidak menguasai sainsnya kita bakal tidak paham maksud dari ayat tersebut dan kemudian salah menafsirinya. Sains lantas menempati posisi seperti ilmu bahasa, ilmu sejarah, ilmu kedokteran, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu budaya, dan lain sebagainya, yang memang dibutuhkan untuk menjadi alat pemahaman teks kitab suci Al-Quran.

            Interelasi agama dan sains bukan hanya menempatkan sains sebagai ilmu alat untuk memahami Al-Quran. Melainkan, juga menempatkan kitab suci Al-Quran sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi pengembangan sains. Bagi siapa saja yang akrab dengan Al-Quran, pasti tahu bahwa begitu banyak ayat yang mendorong kita untuk melakukan pengamatan ke alam sekitar dan jagat raya. Ada lebih dari 800 ayat kauniyah – ayat-ayat tentang alam semesta – yang identik dengan kajian ilmiah. Jumlah ayat-ayat kauniyah itu jauh melampaui ayat-ayat fikih dan peribadatan yang hanya sekitar 150 ayat. Sayangnya, umat Islam lebih banyak membahas dan mengkaji ayat-ayat fikih ketimbang ayat-ayat sains. Sehingga, tidak heran masih banyak di antara kita yang mengira Islam dan Sains adalah dua ilmu yang tidak bersentuhan satu sama lain. Bahkan, ada yang mempertentangkan. Bisa dipastikan, pendapat semacam itu muncul dari kebingungan terhadap Al-Quran. Secara umum, Al-Quran mengritik sekaligus memotivasi dan menginspirasi, agar umat Islam memperhatikan segala ciptaan-Nya di jagat raya karena, semua itu bisa memberikan pemahaman yang mendalam kepada setiap kita tentang Allah, Tuhan alam semesta, yang menjadi pusat dari segala pembelajaran kita tentang Islam.

            Sampai di sini, kita telah memahami bahwa tidak ada pertentangan antara agama dan sains karena keduanya bersifat saling melengkapi. Bahkan, sains adalah keniscayaan bagi siapa saja yang ingin memahami isi Al-Quran secara komprehensif dan holistik yang tanpanya, pemahaman kita hanya akan bersifat normatif. Namun demikian, yang juga penting dipahamkan adalah soal klaim kebenaran. Bahwa, sesungguhnya kebenaran mutlak itu hanya milik Allah. Tersimpan di dalam firman-firman-Nya, di dalam kitab suci Al-Quran. Ketika kebenaran Al-Quran itu dipahami melalui ilmu alat oleh seseorang, maka kebenarannya menjadi relatif. Sesuai dengan kapasitas penafsirnya. Itulah sebabnya, tidak ada seorang ahli tafsir juga dan yang berani mengklaim bahwa penafsirannya paling benar. Pada akhirnya, mereka selalu mengatakan Allahu a’lam bissawab. Bahwa, kebenaran hanya milik Allah, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang paling baik pendapatnya. Islam mengajarkan tentang rendah hati dalam budaya keilmuan karena sebagaimana teori sains yang bersifat relatif, tafsir atas teks-teks agama juga bersifat relatif. Sesuai kapasitas penafsirnya serta sesuai kondisi yang menyertainya. Sebuah kewajaran apabila untuk melakukan kritik terhadap berbagai pendapat yang dikemukakan oleh ilmuwan Islam agar pemahaman atas agama Islam ini terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Sebagaimana misi Al-Quran yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, untuk menjadi petunjuk dan pendamping bagi manusia sampai akhir zaman.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

El-Zastrouw, Ngatawi dkk. (2020). Materi Pembelajaran Mata Kuliah Agama Islam. Jakarta: Universitas Indonesia.

 

Postingan populer dari blog ini

MENGURAI GLOBALISASI: WUJUD BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL DI JABODETABEK

A. PENGERTIAN GLOBALISASI Pengaruh globalisasi dalam dunia yang semakin terhubung secara global telah menjadi perhatian utama dalam berbagai bidang. Dalam era globalisasi ini, batasan-batasan geografis semakin terkikis, memberikan ruang bagi pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya yang lebih intensif dan cepat. Fenomena ini tidak hanya membawa manfaat yang signifikan, tetapi juga menimbulkan tantangan dan perdebatan yang kompleks. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah proses di mana dunia semakin terhubung melalui pertukaran informasi, ide, produk, dan budaya secara global. Ia berpendapat bahwa globalisasi melibatkan percepatan interaksi dan interdependensi antara negara-negara, serta melampaui batasan-batasan geografis dan politik. Giddens juga menekankan bahwa globalisasi memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Giddens, 19

TUGAS GEOGRAFI KELAS X SMA BAB HIDROSFER

PERTANYAAN   Jelaskan aktivitas manusia (minimal 3) yang dapat mengganggu proses siklus hidrologi serta dampak yang ditimbulkannya.   JAWABAN   Kegiatan manusia yang memengaruhi siklus air adalah penebangan hutan secara liar. Pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Pembangunan perumahan dan perindustrian. Pembangunan jalan tol dan jalan raya di perkotaan dan desa.   Penebangan hutan liar yang menyebabkan banyaknya lahan kosong sehingga air yang turun tidak terserap oleh tanah. Pembangunan jalan dengan menggunakan aspal dan beton untuk membuat jalan tol dan jalan raya. Aspal dan beton menghalangi air untuk meresap ke dalam tanah. Pembakaran hutan yang dapat menyebabkan struktur tanah dan juga tandus. Tidak menanami lahan-lahan yang kosong dengan tanaman, tetapi mengubah lahan-lahan tersebut menjadi daerah pemukiman. Berkurangnya daerah resapan air di daerah perkotaan sehingga mengakibatkan sungai, danau, dan daerah penampungan air menjadi kering. Apabila kering, maka men

TRANSFORMASI DAN ADAPTASI MASYARAKAT PESISIR INDONESIA

A. PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL DAN MASYARAKAT PESISIR Dalam era yang terus berkembang ini, perubahan sosial menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam konteks masyarakat pesisir Indonesia. Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, pemahaman yang mendalam tentang perubahan sosial pada masyarakat pesisir menjadi sangat penting. Jan Flora dan Arnold P. Goldsmith menggambarkan perubahan sosial sebagai dinamika sosial dan transformasi struktur sosial yang melibatkan perubahan dalam pola hidup, mata pencaharian, dan pola kekerabatan dalam masyarakat (Flora & Goldsmith, 2003). Dalam konteks masyarakat pesisir, perubahan sosial dapat mencakup pergeseran dalam mata pencaharian dari perikanan tradisional ke sektor pariwisata atau industri lainnya, serta perubahan dalam struktur keluarga dan pola kekerabatan yang dap